(Materialistic) Judgement
Will translate it later.
Gini, nih. Dari hasil pengamatan terhadap segelintir orang. Tidak berlaku untuk semua tapi begini2 ada di masyarakat.
Kalau orang nilai duit duit duit duit duit duit bikin seneng, sekalinya liat orang bisa seneng, santai, dan seolah punya banyak duit, PASTI siriknya minta ampun. Kepanjangan dari siriknya itu, dia sinis duluan sama orang tersebut atau sudah mikir negatif saja duluan.
Lalu, suatu kali dia ngerasa bantu orang2 miskin, senengnya minta ampun sampe seolah2 ‘pamer’. Mungkin, ga sadar tapi benernya dia sedang membanggakan sesuatu. Eh, nolong itu, sih, nolong aja, ga usah pake berisik. Cerita tentang orang susah, sih, cerita aja. Kalau diperpanjang sampai saya membantu, lho, kayaknya, judulnya lain lagi, deh. Bukan sekedar cerita.
Terus, kalau liat orang lain kaya sudah lama, kayaknya, yang gimanaaaa gitu. Sirik aja. Merasa, itu orang easily rich. Tapi kalau sendirinya yang sukses dan kaya, haduh, haduuuuh, macem kerja keras dari nol saja. *Meskipun memang iya, tapi kenapa, kok, terhadap orang lain itu tidak bisa berpikir hal yang sama?*
Gue benci banget ketemu yang begini2 mulu. Orang2 sombong yang ngerasa mulai dari nol. Eh, orang mu mulai dari nol dari 100 dari 1000 itu nasib2 die, hoki2nya die, bukan urusan kita. Haeeeh. Emang semua orang nasibnya harus sama kayak kita? Gile, ye? Dan patut disadari, setiap nasib itu ada penyeimbangnya. Ga ada itu nasib bagus semua. Rakus amat. Die, mereka mau, nggak, terima konsekuensi dari nasib yang di mata mereka bagus??? Paling juga memble, nggak kuat nanggung. Sama kalau orang suruh nanggung ‘nasib’ mereka. Belum tentu juga kuat. Heran g. Jangan2, orang ini tidak se-malaikat kelihatannya, tidak se-bersyukur kelihatannya.
Lucu banget. Orang-orang yang sering ke gereja, yang katanya DEKAT dengan Tuhan tapi, kok, segitu aja. Mending g kayaknya. Iman pas-pasan tapi nggak sekampungan itu.
Ini lagi salah satu kekecewaan g. Orang2 katolik yang munafik. Sekali lagi, g ketemu sama yang beginian. G ga kecewa sama katoliknya sendiri sama Tuhan Yesus-nya sendiri tapi sama orang2 ini. Kenapa, ya, selalu orang2 ini yang menyakiti g? Yang sok suci di depan g? Yang menghina dan merendahkan g? Heran g. G aja santai2 aja. Ga mikir ngerendahin mereka atau gimana. Susah kali, ya, namanya orang minder duluan?
G bener2 benci orang2 macam ini. Orang2 munafik. Yang gini2 yang rasanya g pengen lempar cobek sama ulekannya ke muka mereka biar mereka ‘bangun’ dan ‘sadar’. G nggak bilang g ga pernah munafik tapi menurut g, orang2 ini paling gila, lah. Semunak2nya orang kayak apa, sih? Ini sudah munak pake nyerang orang lain. Haeh. Kalau nggak ada kerjaan mending belajar merenung aja, deh. Ngerasa kalo miskin sudah pasti suci, sih. Salah, tuh, pemahaman ‘miskin’ yang dimaksud dan alasan kenapa penekanan pada ‘miskin’. Haeeeh. Susah banget, apa, ya, mikir? Lebih tua dari g tapi dangkal semua. Heran g.
Ga perlu seorang jenius untuk memahami iman tapi perlu seorang yang mau merenung setiap detik dan tetap berpijak di bumi. Kalau sudah judulnya membanggakan sesuatu, udah, deh, buta aja. Termasuk membanggakan iman dan ketakwaannya. Langsung tulalit sama imannya sendiri. Alhasil, malah nggak jelas. Kelihatan mendua. Kadang, akhirnya, (ketakwaan akan) iman itu tidak ada bedanya dengan ‘materi’. Sesuatu yang harus disombongkan. Haeh.
Tape, deh, ngomongin ginian tapi kalo tidak dikeluarkan bisa bikin botak.
Posted: Saturday, January 28th, 2012 @ 5:49 am
Categories: Personal Thought (!).
Subscribe to the comments feed if you like.
Both comments and pings are currently closed.

